LINTASMATRA.COM-SITUBONDO.
SITUBONDO – Dalam sejarah 1 Muharram mengandung makna merupakan awal ekspedisi hijrah Nabi Muhammad dari Makah ke Madinah.
Tanggal 1 Muharram juga disebut malam 1 Suro dalam kalender Jawa. Jika dalam budaya Islam tanggal tersebut merupakan hari suci karena sebagai penanda resolusi kalender Islam, dalam tradisi Jawa justru dianggap sakral dan mistis.
Saat dikonfirmasi, Media Lintasmatra.com. Pimpinan Padepokan Brojomusti, Gus Nurahman, yang akrap dipanggil Gus Nur, menyampaikan kegiatan ini saya adakan setiap 1 Suro bersama Jamaah pewaris benda pusaka yang ada di seluruh Nusantara.”10/8/2021
Tambahnya, para Jamaah tanpa diundang sudah datang duluan ke Situbondo dua hari sebelum acara digelar khususnya yang dari luar, baik dari Madura, Jakarta, Jogjakarta, Bali, Malang, termasuk Kabupaten terdekat.
Padepokan Brojomusti dengan Pimpinan Gus Nur, dalam acara tersebut tetap melakukan Prokes Covid 19, apalagi masih masuk PPKM acaranya dipersingkat sebelum pukul. 21.00 wib. Sudah selesai.
Sementara dalam hal tradisi, setiap malam 1 Suro Padepokan Brojomusti yang beralamat di Desa Sumberkolak Panarukan Situbondo tiap tahun menggelar do’a dan Dzikir bersama serta ngumba benda pusaka
Dzikir dan do’a bersama yang di hadiri dari berbagai elemen masyarakat baik pewaris leluhur pusaka yang dimilikinya, benda tersebut berupa keris, tombak, pecut, cincin, istambul, dan sejenisnya.
Menurutnya, tradisi merawat Pusaka Warisan Leluhur memang merupakan agenda tahunan yang dilakukan oleh Padepokan Brojomusti di malam 1 Suro atau kalender Islam 1 Muharram, identik tradisi jawa ‘ngumbah keris’ atau jamasan keris.” terangnya.”
Pewarta : (zak)