LINTASMATRA.COM-MOJOKERTO.

TRAWAS-Petirtaan Jolotundo disebut juga dengan Candi Jolotundo atau Jalatunda adalah kompleks petirtaan kuno yang merupakan kawasan kolam suci petirtaan yang dibangun sejak masa Kerajaan Medang yang telah berpindah dari Jawa Tengah ke Jawa Timur, atau lazim disebut Medang periode Jawa Timur dan masih berfungsi hingga sekarang, dugaan paling awal diperkirakan dibangun pada masa pemerintahan Sri Isyana Tunggawijaya putri raja Medang (Mpu Sindok) dengan suaminya Sri Lokapala yang merupakan seorang bangsawan dari pulau Bali.
Pertirtaan Jalatunda secara administratif terletak di Dusun Balekambang,Desa Seloliman, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto,Jatim.Secara geografis, terletak pada 7046’39″LS dan 112040’57″BT yang berada di lereng gunung Penanggungan dengan ketinggian 525 meter DPL.
Pertirtaan ini telah di pugar pada tahun anggaran 1991/1992 sampai dengan tahun 1993/1994 melalui proyek Pemanfaatan Peninggalan Sejarah dan Purbakala Jawa Timur.
Menurut Ahmad Yani dari salah satu pengunjung asal Kota Pasuruan sedikit menceritakan pada awak media Lintasmatra.Jumat (07/04/2023) bahwasanya Petirtaan Jalatunda pada dasarnya merupakan sebuah kolam dengan ukuran 16 kali 13 meter yang memiliki orientasi hadap kebarat.
Lanjut Yani menceritakan,tentang Fungsi Pertirtaan Jalatunda.Bentuk Pertirtaan yaitu berbentuk empat persegi panjang dengan teras ditengah dan puncak pancuran ditengah tengahnya memiliki arti simbolis sebagai gambaran Mahameru.Dalam Konsepsi Hindu.Gunung Mahameru dianggap suci tempat bersemayamnya para dewa.
Pertirtaan ini di anggap pula melambangkan pengadukan lautan dalam cerita Amrtamanthana yang menceritakan proses mendapatkan air suci dengan menggunakan Gunung Mahameru yang dililit Oleh Ular Batara Wasyik.Berdasarkan Hal itu, kolam Jalatunda disamakan dengan lautan,sedangkan teras dengan pancuran berbentuk silindris yang dililit seekor ular melambangkan bentuk Mahameru.Air yang keluar dari pancuran itu sendiri dianggap air suci atau amrta,”tambah Yani
Demikian sedikit pengetahuan saya terkait Petirtaan Jalatunda.Melihat dari cerita tersebut maka,tak heran jika Petirtaan ini sering dikunjungi para pengunjung.Bahkan,hingga dari luar kota,hanya sekedar untuk berpariwisata,ada juga yang datang guna ritual disini sesuai dengan keyakinan mereka masing masing,Seperti mandi dikolam,hingga mengambil air di pancuran untuk dikonsumsi, yang konon katanya bisa membuang aura negatif pada dirinya,Bahkan juga diyakini banyaknya orang bisa menyembuhkan segala penyakit,dengan air yang dianggap suci, akan tetapi semua itu tak terlepas hanya dengan izin tuhan yang maha kuasa (Allah),”pungkas Yani (san)