LINTASMATRA.COM-MALANG.
Malang, Dalam falsafah hidup orang Jawa, kesabaran merupakan nilai utama yang harus dijaga dalam kondisi apa pun. Kata orang Jawa, manusia dituntut untuk tetap sabar walaupun berada dalam keadaan dihina, diremehkan, bahkan dikucilkan oleh lingkungan sekitar. Kesabaran diyakini sebagai jalan terbaik untuk menjaga kehormatan diri sekaligus ketenangan batin.
Sesepuh Kasepuhan Pamencar, Pramono Nyoto Malang Eko Ratri, mengatakan bahwa kesabaran adalah kunci utama dalam pengendalian diri.
Menurutnya, orang yang mampu bersabar berarti telah berhasil mengalahkan hawa nafsu dan emosi yang sering kali menjadi sumber perpecahan dalam kehidupan bermasyarakat.
“Kesabaran adalah kunci utama pengendalian diri. Wong sing bisa sabar iku sejatiné wis nguwasani awake dhewe,” ujar Eko Ratri.
Ia menjelaskan, hinaan dan pengucilan bukanlah akhir dari segalanya, melainkan bagian dari ujian hidup yang harus dihadapi dengan kebijaksanaan.
Dalam ajaran leluhur Jawa, membalas keburukan dengan keburukan hanya akan memperpanjang masalah dan merusak tatanan sosial.
Sebaliknya, kesabaran akan menumbuhkan kejernihan pikiran serta membuka jalan kebaikan di masa depan.
Pamencar Pramono Nyoto menambahkan, sikap eling lan waspada harus senantiasa dipegang teguh. Dengan selalu ingat pada jati diri dan waspada dalam bertindak, seseorang tidak mudah terpancing emosi. “Sabar iku dudu ateges kalah, nanging menang tanpa pamer,” tuturnya.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa kesabaran adalah laku hidup yang membentuk keluhuran budi. Dalam pitutur Jawa dikenal ungkapan “Wong sabar iku luhur drajate”, yang bermakna bahwa derajat orang yang sabar akan diangkat, baik di mata manusia maupun di hadapan Tuhan. Kesabaran juga menjadi benteng agar manusia tidak terjerumus pada dendam dan kebencian.
Di tengah kehidupan modern yang penuh dinamika dan tekanan sosial, nilai kesabaran semakin relevan. Arus informasi yang cepat dan budaya saling menghakimi kerap memicu konflik. Dalam situasi tersebut, ajaran leluhur Jawa hadir sebagai penuntun agar manusia tetap menjaga adab, tata krama, dan rasa kemanusiaan.
Pada akhirnya, pesan kesabaran bukan hanya warisan budaya, melainkan pedoman hidup yang abadi. Dengan kesabaran, seseorang mampu menghadapi hinaan dan pengucilan tanpa kehilangan martabat. Sebab bagi orang Jawa, kesabaran adalah jalan menuju kedewasaan jiwa, ketentraman batin, dan harmoni dalam kehidupan bermasyarakat.
Penulis : Eko Ratri