LINTASMATRA.COM – MALANG
Malang – Demam tifoid, sebuah masalah kesehatan global, semakin memperlihatkan ancamannya di Indonesia. Infeksi bakteri Salmonella typhi menjadi penyebab utama, menyebabkan tingginya angka kesakitan dan kematian di negara berkembang ini.
Menurut laporan dari World Health Organization (WHO), setidaknya 17 juta kematian terjadi setiap tahun akibat demam tifoid, dengan anak-anak mencatat 91% dari total kasus dengan rentang usia 3-19 tahun. Penatalaksanaan dengan antibiotik menjadi langkah utama, namun resistensi bakteri tersebut terhadap antibiotik menjadi ancaman serius.
Pilihan antibiotik yang dahulu efektif seperti Kloramfenikol, Seftriakson, Ampisilin, dan lainnya kini mengalami resistensi, menyebabkan kondisi MDRST (Multidrug-resistant Salmonella typhi) dan XDR (Extensively Drug-resistant Salmonella typhi) yang semakin meningkat. Kegagalan terapi antibiotik tidak hanya meningkatkan komplikasi pada pasien, namun juga mengakibatkan peningkatan angka kematian.
Seiring perkembangan wabah, antibiotik yang semula efektif seperti Azitromisin dan Seftriakson saat ini menjadi pilihan utama dalam penanganan demam tifoid. Namun, pemilihan antibiotik harus dilakukan dengan hati-hati, mempertimbangkan resistensi bakteri yang terus berkembang. Rasionalitas penggunaan antibiotik lini pertama perlu ditekankan untuk mencegah terjadinya resistensi yang dapat memperparah masalah kesehatan ini.
Penanganan yang tepat dalam pemilihan antibiotik menjadi kunci untuk meminimalisir resistensi obat sehingga terapi farmakologis dapat terus dilakukan secara efektif, mengurangi kemungkinan terjadinya Multidrug Resistant (MDR) pada kasus demam tifoid di Indonesia.
Silvia Anggraini Fitriyani
Mahasiswa Ilmu Keperawatan
Universitas Muhammadiyah Malang
silvianggrainii83@gmail.com
*Oleh Silvi Anggraini, Mahasiswa Ilmu Keperawatan, Universitas Muhammadiyah Malang*
Publisher : Ratri