
LINTASMATRA.COM – PASURUAN BANGIL, Menjadi seorang hakim memang cita-cita Dewantoro sejak kecil. Keinginannya menjadi seorang pengadil, tak lepas dari sosok ayahnya, H. Fadlansyah. Figur ayah yang menjadi hakim itulah yang membuat dirinya ingin mengikuti jejak ayahnya. Saat lintasmatra.com temui di kantornya, senyum Dewantoro mengembang. Dengan ramah, ia mempersilakan wartawan media ini duduk di kursi yang disiapkan.

Ia pun mulai bercerita perjalanan hidupnya hingga menjadi Ketua PN Bangil. Jalannya begitu berliku. Bahkan, ia sampai nyaris putus asa gara-gara gagal lolos seleksi. Namun, motivasinya kembali bangkit hingga akhirnya ia benar-benar masuk “sekolah” hakim. Kisahnya bermula saat dirinya ikut pendaftaran CPNS tahun 1993. Ketika itu, ia masih kuliah semester akhir. Ia mendaftar, setelah ada formasi CPNS untuk Kementerian Kehakiman yang kini menjadi Kemenkum-HAM. Karena ada kesempatan menjadi pegawai negeri, saya mencoba,” kata alumnus Universitas Muhammadiyah Yogyakarta jurusan hukum tersebut. Ada ribuan peserta yang ikut tes tersebut.
Tidak semuanya diterima karena hanya diambil beberapa orang. Dari yang mengikuti seleksi itu, ia berhasil diterima. Beliau kemudian ditempatkan di PN Purwokerto. Tidak sebagai hakim, melainkan “hanya” staf di bagian pidana. Bergelut di dunia peradilan, membuat keinginannya untuk menjadi seorang hakim kian meninggi. Keinginan itu akhirnya muncul ketika tahun 1998, pendaftaran calon hakim dibuka. Lebih dari seribu peserta yang ikut mendaftar.
Termasuk istrinya, Rika Ayu Indah. Keduanya sama-sama mendaftar menjadi calon hakim di Semarang. Beberapa tes dilaluinya. Baik tes administrasi, kesehatan, akademik, dan yang lain. Hingga tes terakhir, wawancara di Jakarta. Ia harus menelan kecewa karena gagal melangkah menjadi calon hakim. Bukan hanya saya, karena istri saya juga gagal. Kami kecewa bahkan nyaris putus asa. Sempat merasa kalau saya hanya akan menjadi pegawai biasa,” aku lelaki yang menikah tahun 1996 ini.
Hingga setahun berikutnya, pendaftaran untuk calon hakim kembali dibuka. Semangatnya kembali terlecut setelah mendapat dukungan dari keluarga. Beliau pun mendaftar dan bersaing dengan ribuan peserta yang lain se-Indonesia. Tahapan demi tahapan dilaluinya. Hingga akhirnya, tes wawancara yang sempat gagal dilaluinya, berhasil “ditundukkannya”. Akhirnya pun lolos menjadi salah satu dari 200 calon hakim se-Indonesia. “Saya sangat bersyukur karena langkah mewujudkan cita-cita akhirnya terbuka,” kenang bapak dua anak ini. Pengadilan Negeri Banyumas Jawa Tengah menjadi “persinggahan” awal.
Ia bertugas sebagai calon hakim di PN Banyumas pada 2000 – 2003. Di tahun 2003, ia diangkat menjadi hakim dan ditugaskan di PN Pangkalanbun, Kalimantan Tengah. Ia bertugas sebagai hakim di PN Pangkalanbun hingga 2007. Selanjutnya, saya dimutasi ke PN Sangatta, Kalimantan Timur. Saya menjabat di PN Sangatta antara 2007 hingga 2009,” kisah kelahiran Kalimantan, 15 Juli 1970 ini. Beliau kembali masuk gelombang mutasi di tahun 2009. Dewantoro dipindahtugaskan ke PN Watampone, Sulawesi Selatan pada 2013. Tak begitu lama. Karena dua tahun kemudian, ia dimutasi ke PN Palu, Sulawesi Selatan. Sampai tahun 2015, ia mendapat promosi menjadi Wakil Ketua PN Tamiang Layang, Kalimantan Tengah.
Jabatan tersebut disandangnya selama setahun. Karena tahun 2016, ia kembali dipromosikan menjadi Ketua PN Masohi, Maluku. Setahun setelah menjadi Ketua PN Masohi, ia dipercaya menduduki jabatan Ketua PN Banjarnegara, Jawa Tengah. Jabatan ketua di PN kelas IIB itu, dinikmatinya selama setahun. Karena pada 2018, ia diangkat menjadi wakil ketua pada PN Gianyar Bali. Usai menjadi wakil ketua di PN kelas IB itulah, promosi kembali didapatkannya. Ia dipercaya menjadi Ketua PN Bangil. Jabatan tersebut disandangnya sejak dilantik pada 18 Juni 2019 di Surabaya. Selama bertugas, banyak pengalaman yang didapatkannya.(Red/Mbon)