LINTASMATRA.COM-PASURUAN.
BANGIL- Matahari siang itu menyinari halaman kantor kabupaten dengan terik, tetapi sorot mata puluhan pria di sana memancarkan cahaya yang berbeda: cahaya harapan.
Tangannya, yang biasa mencengkeram erat setang becak kayu tua, kini gemetar menyentuh setang baru yang berkilau. Hari itu, bukan sekadar seremoni. Hari itu adalah titik balik setelah puluhan tahun berjuang melawan arus zaman dengan tenaga otot dan keringat.
Pemerintah Kabupaten Pasuruan, melalui Bupati H. Muhammad, secara resmi menerima titipan harapan itu: 100 unit becak listrik dari Yayasan Gerakan Solidaritas Nasional (YGSN).
Bukan sekadar bantuan, ini adalah pengakuan atas jerih payah para ‘abang becak’ yang menjadi denyut nadi transportasi tradisional, namun kian terengah-engah di tengah gempuran mesin-mesin modern.
“Ini adalah amanah dari Bapak Prabowo Subianto, sebuah bukti ketulusan yang murni dari dana pribadinya untuk meringankan beban saudara-saudara kita,” suara lantang Mayjen TNI (Purn) Firman Dahlan, Direktur Perencanaan YGSN, menggema penuh wibawa.
Di hadapannya, duduk para pejabat, tetapi fokusnya tertuju pada para penerima, yang matanya mulai berkaca-kaca. Pesannya tegas namun mengharukan: “Jaga amanah ini. Jangan dijual, jangan digadaikan, apalagi untuk balapan. Rawatlah, karena ini adalah tiket baru untuk hidup yang lebih baik.”
Bupati Pasuruan H.M. Rusdi Sutejo, dengan suara bergetar penuh syukur, menyambut tiket baru tersebut. “Alhamdulillah… Ini jawaban dari doa-doa yang selama ini dipanjatkan di setiap tanjakan jalan Pasuruan,” ujarnya.
Seratus becak listrik itu akan didistribusikan kepada para pejuang jalanan dari 13 kecamatan, mereka yang setia mengayuh meski napas tersengal dan usia tak lagi muda.
“Ini adalah modal baru. Lebih ringan, lebih efisien. Mari kita gunakan untuk mengayuh masa depan keluarga,” imbaunya, membayangkan hilangnya deru nafas berat yang selama ini mengiringi setiap kayuhan.
Namun, narasi yang sesungguhnya paling dramatis justru datang dari sudut lapangan. Mustopa (65), seorang tukang becak dari Desa Manaruwi, Bangil, dengan tangan bergetar memegang erat setang becak barunya. Kerutnya wajahnya yang dalam, yang terbentuk oleh puluhan tahun terik matahari dan hujan, seakan merekah oleh senyum yang lama tak muncul. Air matanya tak tertahan.
“Terima kasih, Bapak Presiden… Terima kasih, Bapak Bupati…” ucapnya tersendat, suaranya parau oleh emosi dan waktu. “Becak ini… saya rawat seperti nyawa saya sendiri. Saya janji.” Janji singkat itu bukan hanya pada pemberi hadiah, tetapi pada istri dan cucunya di rumah, bahwa besok, kayuhan akan lebih ringan dan rezeki mungkin bisa lebih banyak.
Bantuan ini lebih dari sekadar alat transportasi. Ia adalah simbol transisi, dari masa lalu yang penuh peluh menuju masa depan yang lebih ramah lingkungan dan manusiawi. Ia adalah pengakuan bahwa dalam derap pembangunan yang cepat, mereka yang tetap setia dengan roda tiga dan kayuhannya tidak dilupakan.
Saat becak-becak listrik itu mulai bergerak meninggalkan halaman kantor bupati, bukan hanya deru mesin listrik yang terdengar, melainkan juga suara lembut sebuah doa: doa untuk umur panjang, kesehatan, dan akhirnya, kehidupan yang lebih terhormat bagi para pahlawan jalanan Pasuruan.